Salam ..
Hi dearest Blogger..
Peu Haba??? (Apa kabar?) *wishing y guys have great days :D
Kali ini saya ingin bicara soal rindu yang begitu mahal :(
Peu Haba??? (Apa kabar?) *wishing y guys have great days :D
Kali ini saya ingin bicara soal rindu yang begitu mahal :(
Ini soal Lawrence
Sudah setahun lebih aku meninggalkan sebuah kota kecil dibelahan bumi Allah yang lain itu. Sudah setahun lebih rindu ini tertahan tak bertuan. Jadi kuputuskan untuk ku terjemahkan saja rinduku ini dalam bahasa tulis agar suatu saat nanti aku ingat betapa aku pernah sangat merindukannya. (Cieileh bahasa nya) :P
Rinduku pada dorm bernama Hashinger membawa memoriku menaiki lift menuju sebuah kamar di lantai 7 bernomer 728. Iya, kamar ke2 tepat sejajar dengan lift yang menghadap ke fountain cold water yang biasa kami gunakan untuk minum.
Rinduku pada dorm bernama Hashinger membawa memoriku menaiki lift menuju sebuah kamar di lantai 7 bernomer 728. Iya, kamar ke2 tepat sejajar dengan lift yang menghadap ke fountain cold water yang biasa kami gunakan untuk minum.
Membuka pintu kamar itu pasti akan terasa sangat dingin karena kebiasaan roommate Jepangku, Ayana yang suka meninggikan suhu pendingin ruangan kamar kecil kami itu. Sangat timpang dengan panasnya summer di luar sana. Summer kali itu adalah summer terpanas dalam beberapa tahun terakhir di Kansas. Kebangetan panasnya, jadi kalau lihat kebanyakan orang berlalu lalang memakai kaca mata hitam, itu bukanlah sekedar gaya-gayaan melainkan untuk melindungi mata dari teriknya sinar matahari musim panas itu. Kamar sederhana nan manis yang didominasi benda-benda bewarna pink milik roommateku itu telah jadi saksi dari 2 gadis Asia yang berasal dari negara berbeda menghabiskan hari-hari mereka bersama selama 57 hari. Tiga hari di awal kedatanganku Ayana masih menikmati liburannya di LA. Senang sekali rasanya bisa sekamar dengan gadis Jepang yang pintar itu. Usianya 2 tahun lebih muda dariku, tapi kalau diperhatikan ia terlihat lebih dewasa dariku. Ayana sangat menghargai perbedaan. Ketika sampai, aku ceritakan bahwa aku seorang muslim agar dia tidak heran ketika aku sedang mengerjakan salat. Ia sangat menghargainya dan memintaku membaca Al-Quran yang menurutnya sangat menarik karena aku bisa membaca tulisan Arab. Atau ketika kadang-kadang ia ingin menikmati Friday nite nya bersama teman-temannya & terkadang mabuk, dia memilih menginap di apartment temannya.
Aku ingat jelas beberapa menit sebelum kepulanganku ke Indo, si gadis Jepang fans berat Junta Nakama yang terkadang tak banyak bicara itu bisa menangis sejadi-jadinya, sama sepertiku. Iya masuk ke bus yang akan mengantar kami ke Kansas city untuk memelukku sekali lagi. Selama hidup tak pernah aku rasakan punya seorang roommate, tapi sekalinya punya, itu terjadi di Kansas, USA, di sebuah dorm yang amat sangat menyenangkan bersama Ayana. Ah, aku rindu sekali pada gadis Osaka itu :(
Rinduku yang lain tentu tertuju pada Fraser. Gedung perkuliahan untuk mahasiswa AEC itu meninggalkan banyak rekam memori indah. Terbayang ketika mata ini terpejam berkali-kali karena belum bisa menyesuaikan waktu belajar yang kalau di Indo itu jarum jam menunjukkan pukul 11 atau 12 malam. Benci sekali rasanya harus mengantuk di kelas Don, dosen favoritku. Aku rindu berjalan di bawah teriknya summer menelusuri jalan utama menuju kampus, mampir ke Wescoe untuk menikmati makan sendirian ala-ala mahasiswa disana sekaligus menghabiskan digit dollar di KU ID ku atau datang ke kampus lebih awal menikmati rimbunnya pepohonan di bagian belakang Fraser :)
Rinduku yang lain untuk Jae mahasiswa asal korea penggila fashion & Mr. Luis seorang profesor dari Iraq. 2 orang ini meningatkanku pada kebiasaan untuk tepat waktu. Sekitar 2 minggu sebelum pulang, aku mendapat tugas untuk kerja kelompok di kelasnya Perrin, guru grammarku yang sgt professional. Siang itu aku tidak ada jam kuliah, tapi aku harus bertemu dengan Jae & Luis untuk mengerjakan tugas bersama di Wetson library. Aku memilih berjalan menuju Wetson, sedang Jae datang lebih awal in time bersama pacarnya mengendarai mobil, & Luis datang tepat di jam yang disepakati on time. Aku rindu professionalitas yang seperti itu, sulit ku dapatkan di kampungku yang biasa menggunakan jam berbahan karet.
Rinduku yang paling pasti, pastilah untuk kebersamaanku bersama 19 anak Indonesia lainnya yang sangat luar biasa. Rinduku pada pejuang2 besar itu. Apa kabar kalian??
Setelah kepulangan, Aku mendapat kesempatan bertemu beberapa dari para Jayhawkers itu, sisanya aku masih menunggu dipertemukan dengan mereka lagi :)
Aku rindu berbagi koin sama Tiwi untuk ngelondri di lantai 2 atau bercerita tentang cinta lokasi ala-ala pengguni kelas-kelas di Fraser. hehe. Aku rindu Tami yang biasa kabur nginap di kamar Laila, si gadis Jember yang setiap hari melakukan rutinitas yang sama yaitu wajib ngeskype 3 x sehari ke keluarga & pacarnya di Indo. Di kamar depan ada Lina si gadis Bali yang biasa tertidur di meja belajarnya karena kebiasaannya multItasking mengerjakan tugas &pekerjaannya di Indo. Di kamar sebelah ada Izka yang punya roommate cewe Jepang terimut diantara anak2 Jepang lainnya. Dibalik cueknya izka, sebenarnya ia adalah teman yang sangat perhatian. :) Diselahnya ada gadis cantik hobi dandan, Hilya yang paling seru & rusuh. Hilya, teman berbagi chips Ahoy cemilan favoritku. Ada Ince, si mbak pinter yang biasanya komat kamit kalo kamarnya dipake buat ngumpul2 anak Jepang. "Gue gak bisa tidurrrrr" Keren bgt kamu mbak, berbekal doan Ibumu, akhirnya skripsimu kelar di Wetson library dalam hitungan hari :).
Ada rindu untuk Nindy & Achi, anak Indo yg kebagian kamar paling ujung tapi paling rajin, paling cepet bangun, & paling cepet siap kalo mw ke kampus. Aku juga rindu pada gadis-gadis pengguni lantai 3, Shofia & Nisa. Shofia yang kamarnya selalu rapi & Nysa yang kebiasaan tidur diatas sajadah selesai sholat.
For the rest cowo2 kece, Arasyid, Dhani, Unsun, Dale, Hans, Tio, Zul, Harun, I really wish to see y guys again. Dari kalian aku belajar banyak tentang Indonesia.
Jadi ingat kata Dhani "Sejak ketemu kalian, aku jadi lebih Indonesia"
Aku ingat pas Tio marah parah di Mrs. Es yang habis mendengar kalimat " Apasih spesialnya kalian" dari seorang wanita yang sebenarnya jg berasal dari Indo. Hahhhhh Dy gak tau betapa aku sangat bahagia punya teman-teman yang Extremely Extraordinary dengan kesederhanaan & gaya mereka masing2.
Aku senang saat tahu bahwa kita punya andil yang cukup besar ketika akhirnya seorang teman dari Brazil, Vini yang tadinya ingin kembali kuliah di Brazil akhirnya memilih untuk tetap tinggal di KU.
Aku senang ketika Phuc bilang setelah setahun dy berada di Kansas, untuk pertama kalinya dy merasa berada dirumah & sangat bahagia karena pertunjukan khusus Indonesian Day kita.
Aku rindu ketika Perrin masih memutar video pertunjukkan kami berkali-kali hampir seminggu di kelas untuk ditonton bersama ketika break.
Aku rindu Olivia, gadis kecil nan baik hati & pintar itu. Pelukannya yang tak mau melepaskanku ketika aku beri tahu bahwa aku akan segera pulang ke Indo, atau ketika dy mengembalikan beberapa permen tiwi, takut tiwi tak bisa menikmati permennya. Aku rindu bertemu keluarganya.
Rindu di hari-hari terakhirku, ketika harus ke walmart sendiri & berbincang lebih lama dengan seorang mahasiswa keturunan India yang sebelumnya beberapa kali pernah berpaspasan di kampus.
Aku rindu dengan segala keberagaman budaya yang aku pelajari disana.
Masih banyak rindu tak tersebut. Rindu yang mahal untuk dijadikan nyata. Rindu yang kini dipisahkan oleh benua & kota. For the rest cowo2 kece, Arasyid, Dhani, Unsun, Dale, Hans, Tio, Zul, Harun, I really wish to see y guys again. Dari kalian aku belajar banyak tentang Indonesia.
Jadi ingat kata Dhani "Sejak ketemu kalian, aku jadi lebih Indonesia"
Aku ingat pas Tio marah parah di Mrs. Es yang habis mendengar kalimat " Apasih spesialnya kalian" dari seorang wanita yang sebenarnya jg berasal dari Indo. Hahhhhh Dy gak tau betapa aku sangat bahagia punya teman-teman yang Extremely Extraordinary dengan kesederhanaan & gaya mereka masing2.
Aku senang saat tahu bahwa kita punya andil yang cukup besar ketika akhirnya seorang teman dari Brazil, Vini yang tadinya ingin kembali kuliah di Brazil akhirnya memilih untuk tetap tinggal di KU. Aku senang ketika Phuc bilang setelah setahun dy berada di Kansas, untuk pertama kalinya dy merasa berada dirumah & sangat bahagia karena pertunjukan khusus Indonesian Day kita.
Aku rindu ketika Perrin masih memutar video pertunjukkan kami berkali-kali hampir seminggu di kelas untuk ditonton bersama ketika break.
Aku rindu Olivia, gadis kecil nan baik hati & pintar itu. Pelukannya yang tak mau melepaskanku ketika aku beri tahu bahwa aku akan segera pulang ke Indo, atau ketika dy mengembalikan beberapa permen tiwi, takut tiwi tak bisa menikmati permennya. Aku rindu bertemu keluarganya.
Rindu di hari-hari terakhirku, ketika harus ke walmart sendiri & berbincang lebih lama dengan seorang mahasiswa keturunan India yang sebelumnya beberapa kali pernah berpaspasan di kampus.
Aku rindu dengan segala keberagaman budaya yang aku pelajari disana.
Rindu yang akhirnya hanya bisa menjadi ingatan terindah bersama mereka & tersimpan baik di hati ini.

No comments:
Post a Comment
Coment